Home / Otomotif

Senin, 12 April 2021 - 11:39 WIB

Perkembangan Otomotif di Indonesia

Berbincang soal industri otomotif, sejatinya dinamika empiris sejarah industri otomotif Indonesia sudah dimulai hampir seabad lalu. Persisnya di 1927. Cikal-bakal bisnis otomotif sudah mulai semenjak General Motors mendirikan pabrik perakitan di Tanjung Priok. Malah pabrik itulah yang terbesar kedua di Asia setelah Yokohama, Jepang.

Alasan mereka memilih Jakarta ketimbang Singapura lantaran insentif kebijakan yang lebih baik. Puluhan tahun kemudian, tepatnya 1969, William Soeryadjaja pendiri Astra, mencaplok pabrik General Motors dari status BUMN PN Gaya Motor menjadi bagian dari imperium kerajaan bisnis otomotif Astra.

Potensi pasar otomotif Indonesia sangatlah besar. Dengan pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5%, seharusnya menjadi keuntungan tersendiri bagi sektor industri perkembangan otomotif di Indonesia, di tengah pelambatan ekonomi global. Industri otomotif menjadi salah satu andalan pada kebijakan industri nasional, yang juga memberikan nilai besar dalam produk domestik bruto. Berkaca pada 2017 saja, industri otomotif mencatatkan kontribusi subsektor industri alat angkutan terhadap PDB sektor industri non-migas sebesar 10,17%. Jelas bukan angka kecil.

Perkembangan industri otomotif di Indonesia didorong oleh kebijakan Pemerintah yang mengatur sektor tersebut, kemajuan teknologi dan situasi ekonomi 1969

Pada tahun 1969 Kementerian Perindustrian Perdagangan mengeluarkan peraturan bersama tentang impor kendaraan bermotor, baik dalam keadaan utuh (completely-built up, CBU) ataupun terurai (completely-knocked down, CKD), serta tentang industri perakitan dan keagenan.

Pada saat itu mulai bermunculan industri perakitan serta industri-industri pendukung, seperti suku cadang, pengecetan, baterai (aki). Industri lokal sudah sanggup memproduksi jigs dan fixtures, serta melakukan proses pengecatan, las, trimming, dan metal finishing.

pada tahun 1970, ketika itu Pemerintah Indonesia mengeluarkan beberapa kebijakan untuk mendukung industri otomotif di Indonesia seperti SK Menteri Perindustrian No.307/M/SK/8/76, SK Menteri Perindustrian No.231/M/SK/11/78 dan SK Menteri Perindustrian No.168/M/SK/9/79. Selain itu Pemerintah juga mengeluarkan serangkaian peraturan yang dikenal dengan sebutan Program Penanggalan. Kebijakan ini menerapkan bea masuk yang tinggi terhadap kendaraan – kendaraan yang tidak menggunakan stamping parts yang diproduksi dalam negeri.

Pada masa itu Pemerintah lebih memfokuskan pada kendaraan – kendaraan minibus dan komersial salah satunya dengan pemberian keringanan pajak dan memberikan pajak yang tinggi terhadap kendaraan – kendaraan seperti sedan.

Memasuki era 1980-an perkembangan industri otomotif mengalami pasang surut karena dikarenakan beberapa kendala seperti adanya devaluasi Rupiah pada tahun 1983 (27,5%) dan pada tahun 1986 (31,0%). Selain itu juga ditambah dengan adanya kebijakan uang ketat pada tahun 1987. Penjualan kendaraan bermotor yang pada akhir tahun 1981 berada di kisaran 208.000 unit, menurun antara 150.000 dan 170.000 unit pada tahun – tahun berikutnya

Pada era 1990-an Pemerintah mengganti Program Penanggalan dengan Program Insentif yang dikenal dengan Paket Kebijakan Otomotif 1993. Produsen mobil diperbolehkan memilih sendiri komponen mana yang akan menggunakan produk lokal dan akan mendapatkan potongan bea masuk, atau bahkan dibebaskan dari bea masuk, jika berhasil mencapai tingkat kandungan lokal tertentu. Program ini telah dijalankan oleh Toyota dengan Kijang generasi ketiganya (1986 – 1996) dimana kandungan lokalnya sudah mencapai 47%. Begitu juga yang dilakukan oleh Indomobil yang mengeluarkan mobil Mazda MR (Mobil Rakyat).

Di tahun 1996 Pemerintah memutuskan untuk mempercepat Program Insentif dan memperkenalkan Program Mobil Nasional dengan mengatur bahwa untuk mendapatkan pembebasan bea masuk, perusahaan harus mencapai tingkat kandungan lokal sebesar 20 persen, 40 persen dan 60 persen di tahun pertama, kedua dan ketiga. Surat Instruksi Presiden (Inpres) No.2/1996 tentang Program Mobil Nasional, dikeluarkan untuk memperbaiki sistem deregulasi untuk menyambut adanya pasar bebas tahun 2003.

Baca Juga   Motor Yamaha Matic Di Indonesia

PT. Timor Putra Nasional (TPN) yang bermitra dengan KIA Motors dari Korea Selatan adalah perusahaan pertama yang mendapatkan pembebasan bea masuk barang mewah melalui program ini. TPN dipercaya untuk memproduksi mobil nasional yang bernama Timor (Teknologi Industri Mobil Rakyat).

Pada bulan Juni 1996, Pemerintah kembali mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) No.42 yang berisi tentang diizinkannya TPN mengimpor mobil utuh dari Korea Selatan asalkan mobil Timor dikerjakan tenaga kerja asal Indonesia di pabrik Kia di Korea Selatan, serta dalam waktu 3 tahun, TPN harus bisa memenuhi kandungan lokal pada mobil Timor-nya sebanyak 60%. Perusahaan – perusahaan otomotif lain (Jepang, Amerika Serikat dan Eropa) yang tidak mendapatkan insentif pajak yang sama, melakukan protes ke World Trade Organization(WTO).

Sebenarnya Inpres itu juga mengatur, siapapun bisa mendapatkan predikat mobil nasional yaitu bila komponen lokalnyasudah mencapai 60% dengan memakai merek nasional dan dilakukan oleh perusahaan swasta nasional, bukan kepanjangan tangan dari prinsipal. Pembebasan pajak barang mewah, selain bea masuk, untuk kendaraan yang memiliki kandungan lokal 60 persen mendorong produsen untuk menanamkan modal dalam pabrik – pabrik baru seperti pabrik mesin dan casting, yang menghasilkan barang setengah jadi.

Selain Timor, berkembang juga merek – merek nasional lain seperti Sena, Morina (Bakrie), Maleo, Perkasa, Kancil dan Astra. Namun sayangnya keberadaan mereka tak semulus Timor yang dipimpin oleh Tommy Soeharto. Timor digugat Jepang dan Amerika Serikat di WTO dan akhirnya TPN kalah. Proyek Timor semakin suram ketika krisis ekonomi tahun 1997 datang dan pada puncaknya ketika rezim Presiden Soeharto jatuh pada bulan Mei 1998. Angka penjualan mobil juga ikut menurun menjadi 58.000 unit di tahun 1998, jauh berbeda jika dibandingkan dengan tahun 1997 yang mencatat angka sebesar 392.000 unit.

Memasuki era tahun 2000, Pemerintah mengeluarkan Paket Kebijakan Otomotif 1999 yang bertujuan untuk mendorong ekspor produk otomotif, menggerakkan pasar domestik dan memperkuat struktur sektor otomotif dengan mengembangkan industri pembuatan komponen. Keran untuk mengimpor kendaraan secara utuh (CBU) dibuka lagi, tidak seperti tahun – tahun sebelumnya dimana sangat sulit sekali untuk mengimpor kendaraan CBU.

Adapun tujuannya dibukanya keran impor kendaraan CBU selain karena saat ini sudah masuk ke era pasar bebas, juga diharapkan agar mobil rakitan lokal (CKD) termotivasi untuk meningkatkan kualitas kendaraannya guna
menghadapi serbuan kendaraan CBU. Para pemain lokal tidak hanya berlomba – lomba meningkatkan kualitas tetapi juga menekan harga dengan cara memperbanyak jumlah komponen lokal yang terkandung di dalam kendaraan tersebut.

Pada tahun 2017, kapasitas total produksi di Indonesia adalah 2,3 juta unit per/Tahun, setelah pemanfaatan kapasitas tersebut di perkirakan turun menjadi 55 persen di tahun 2017. Kapasitas di negeri ini tidak sejalan dengan pertumbuhan permintaan domestik dan asing untuk mobil buatan Indonesia. Pemerintah Indonesia bertekad untuk mengubah Indonesia menjadi pusat produksi global untuk manufaktur mobil dan ingin melhat produsen-produsen mobil yang besar untuk mendirikan pabrik di Indonesia Karen negara ini sangat optimis untuk untuk menggantikan Thailand sebagai pusta produksi otomotif di Asia Tenggara.

Saat ini, Thailand mengontrol untuk konteks penjualan di wilayah ASEAN sekitar 45 % sementara Indonesia sebesar 34 %. Sebenarnya ada hubungan antara penualan mobil dan pertumbuhan ekonomi ketika pertumbuhan PDB mendongkrak daya beli masyarakat sementara kepercayaan diri konsumen sangat kuat. Pada masa kurang jelasnya pertumbuhan ekonomi mengenai situasi keuangan pribadi di masa mendatang masyarakat cenderung menunda membeli barang-barang yang relatif mahal seperti mobil.

Baca Juga   Motor Suzuki Matic Di Indonesia

Pasca periode orde baru, pertumbuhan ekonomi bertambah pesat di tahun 2011 sekitar 6-7 % pada basis year on-year. Pada tahun 2011 Indonesia mulai mengalami pelambatan ekonomi yang berlanjutan, terutama karena guncangan International ( pertumbuhan yang global yang lambat dan harga komiditi yang menurun dengan cepat ). Pada tahun 2015, subsidi bensin Premium di hapuskan pada dasarnya dihapuskan sementara subsisi tetap Rp 1.000 per liter ditetapkan untuk diesel (solar).

Selama beberapa dekade masyarakat Indonesia mengkonsumsi bahan bakar untuk kendaraannya yang sangat murah karena subsidi energy yang melimpah dari pemerintah namun pada tahun 2013-2014 reformasi membawa pada kenaikan harga bensin menjadi Rp 4.500 perliter di awal tahun 2013 menjadi Rp 7.400 perliter di pertengahan 2015, kenaikan harga sebesar 63 %.

Pada awal tahun 2014 Indonesia memproduksi koendaraan roda 4 yang memiliki harga yang sangat terjangkau dan sangat efisien untuk mengkonsumsi bahan bakarnya yang di sebut dengan Low-cost green car (LCGC). Low-cost green car (LCGC) adalah mobil dengan harga terjangkau, dan efisien menggunakan bahan bakar, yang diperkenalkan ke pasar Indonesia di akhir 2013 setelah Pemerintah telah menawarkan insentif-insentif pajak untuk para pemanufaktur mobil yang memenuhi persyaratan-persyaratan untuk target efisiensi BBM.

Mobil-mobil LCGC biasanya memiliki harga kira-kira Rp 100 juta membuat mobil-mobil ini menarik untuk segmen kelas menengah ke bawah yang berjumlah besar di negara ini. Menjelang implementasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Pada tahun 2015, Pemerintah Indonesia ingin membuat Indonesia menjadi pusat regional untuk produksi mobil-mobil LCGC. Mobil-mobil ini memiliki kapasitas mesin sebesar pada 1.200 kubik sentimeter, dan di desain untuk menggunakkan bensin yang memiliki oktan minimum 92. 5 merek Mobil di Indonesia yang menjual mobil Low-cost green car (LCGC) adalah Toyota, Daihatsu, Honda, Suzuki dan Nissan. Berbagai model mobil-mobil LCGC telah dijual di pasaran sejak akhir 2013 (termasuk Astra Toyota Agya, Astra Daihatsu Ayla, Suzuki Karimun Wagon R, dan Honda Brio Satya).

Pemerintah memiliki harapan untuk mengekspor mobil di beberapa negara terutama di benua Asia Tenggara yang akan mengubah wilayah ASEAN menjadi satu pasar dan area produksi tunggal. Mobil-mobil yang di rakit di Indonesia yang telah di ekspor seperti Toyota Avanza, Toyota Fortuner, Toyota Innova, Nissan Grand Livina, Nissan Tera, Nissan X-TRAIL, Honda Freed, Chevrolet Spin, Suzuki Ertiga, Suzuki Ignis, dsb. Pasar-pasar ekspor yang paling penting adalah Thailand, Saudi Arabia, Filipina, Jepang, dan Malaysia.

Produk otomotif ternama di Indonesia seperti Honda, Toyota, Mazda, Daihatsu, General Motor, Volswagen dan laiinya akan juga tidak akan mau kalah untuk menambahkan kapasitas produksinya karena besarnya potensi pasar mobil di Indonesia. Bahkan pendatang baru dari India yaitu TATA Motor akan menjadikan Indonesia sebagai basis produksinya. Namun, Toyota telah menambahkan kapasitas produksinya di pabrik investasinya sebesar 41,3 Milyar yen di Indonesia. Dari 70,000 unit hingga 120.000 unit.

Jika pemerintah terus menjalin kolaborasi yang apik dengan pelaku alias pemain otomotif, maka Indonesia harus sukses berintegrasi dengan arus besar global supply chain industri otomotif. Kalau semua pihak terkait mau bersungguh-sungguh belajar dari riwayat jatuh bangun imperium otomotif Indonesia, karena ayunan pendulum kebijakan, maka kita merayakan seabad industri otomotif Indonesia pada 2027 sebagai andalan ekonomi nasional. Dengan atau tanpa brand lokal, Indonesia akan mampu menjadi bagian global supply chain otomotif global.

Share :

Baca Juga

Tips Membeli Mobil

Otomotif

Tips Membeli Mobil Yang Anda Inginkan
Motor Yamaha Matic Di Indonesia

Otomotif

Motor Yamaha Matic Di Indonesia
Motor Honda Matic Di Indonesia

Otomotif

Motor Honda Matic Di Indonesia
Motor Suzuki Matic Di Indonesia

Otomotif

Motor Suzuki Matic Di Indonesia
Mobil Listrik dan Hybrid di Indonesia

Otomotif

Jenis dan Harga Mobil Listrik dan Hybrid di Indonesia
Motor Listrik

Otomotif

6 Motor Listrik yang ada di Indonesia
Industri Otomotif 2021

Otomotif

Industri Otomotif 2021 Optimistis Bangkit dari Pandemi